Header Ads

PEMERINTAH JEMBER AKAN SIAPKAN ANGGARAN UNTUK PENGADAAN ALAT PELINDUNG DIRI BAGI NELAYAN


 


SRJ NEWS  - Peristiwa kecelakaan laut di perairan Puger, Kamis (19/7/2018) lalu, yang mengakibatkan 8 nelayan meninggal dan 1 nelayan masih dalam pencarian, mengundang keprihatinan banyak pihak. Mengingat, musibah serupa yang membawa korban jiwa hampir setiap tahun terjadi.



Lalu apa sebenarnya yang menjadi penyebab utama hingga kecelakaan laut itu begitu seringnya terjadi ?. Bupati Jember, dr. Hj. Faida. MMR, dalam kunjungannya ke Puger dalam rangka menjenguk sekaligus takziah ke keluarga korban kecelakaan laut menjelaskan, bahwa salah satu penyebab hingga banyaknya korban dalam kecelakaan laut itu karena para nelayan diduga tidak menggunakan alat pelindung diri.



Karena itu, sebagai upaya perlindungan diri, bupati menyarankan, ke depan para nelayan hendaknya menggunakan alat pelindung ketika hendak melaut. “Sudah saatnya nelayan membekali diri dengan alat pelindung diri (APD) selama melaut. Untuk itu kita wajibkan para nelayan menggunakan pelampung,” ujar Bupati Faida.



Untuk penggunaan pelampung ini, Pemerintah Kabupaten Jember akan menyiapkan anggaran di perubahan APBD tahun ini. Anggaran untuk pelampung itu bagi nelayan dengan kapal di bawah 10 GT (Gross Tonage/daya tampung kapal).



Hal lain yang menjadi penyebab seringnya perahu nelayan Puger (Jember) tenggelam, karena 85 persen kapal yang digunakan di bawah 10 GT. Mayoritas nelayan di Kabupaten Jember memakai kapal 5 GT.



Kapal dengan daya tampung seperti ini, menurut Bupati, kondisi rawan. “Sehingga dalam setahun hanya enam bulan bisa melaut dan dalam keadaan tidak cukup aman. Oleh karena itu, kita akan bersinergi dengan pemerintah pusat untuk memberikan bantuan kepada nelayan secara bertahap untuk mendapatkan kapal-kapal di atas 10 GT,” ungkapnya.



Oleh karenanya, dengan kondisi kapal dan tidak adanya alat pelindung diri, bupati berpesan, nelayan hendaknya ekstra hati-hati. Itu utamanya, saat gelombang tinggi, nelayan hendaknya jangan memaksakan diri melaut.



Sementara terkait dengan bergantungnya nelayan dari melaut untuk mendapatkan penghasilan, bupati menjelaskan, sebenarnya nelayan masih punya alternatif. “Kita akan mencoba menggerakkan kehidupan bergotong royong mengelola tambak rakyat. Pemerintah yang akan menyiapkan bahannya dan pendampingan dari kementerian kelautan dan perikanan,” ungkapnya.



Lain dari itu, pemerintah juga akan mengembangkan kuliner bahari yang bisa ditangani ibu-ibu. “Sehingga selama 12 bulan kehidupan nelayan akan terjaga dengan baik,” jelasnya.

Sedang saat menghadapi masa paceklik, solusi yang bisa dikerjakan nelayan, yaitu pekerjaan padat karya. Dengan padat karya ini, pemerintah juga terbantu untuk pelaksanaan program di wilayah Puger "Pungkasnya (pan)

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.